Suatu hari ada seorang mantan pejabat kaya raya sebut saja bapak A. Bapak A ini mempunyai banyak harta kekayaan yang begitu berlimpah, rumahnya dimana-mana. Perusahaannya pun dimana-mana, makmur sekali hidupnya namun sudah setaun lebih bapak A ini memiliki sakit stroke, dimana strokenya mengenai bagian motorik sebelah kiri. Kaki kirinya tak dapat bergerak. Tangan kirinya dan matanya tak dapat berfungsi. Namun ia masih bisa berbicara. Mantan pejabat yang kaya raya ini sudah melakukan pengobatan dimanaa-mana yang anehnya hartanya tak kunjung habis bahkan perusahaannya selalu mengalami keuntungan yang terus menerus.
Dilain hal ada seorang bapak, sebut saja bapak B. Bapak B ini sangatlah miskin. Aanaknya banyak tidak adapat bersekolah. Makan terkadang hanya siang saja namun itu sudah syukur kalo lagi apes ya bapak B dan keluarga bisa hanya makan dua hari sekali. Sangatlah tragiss. Bapak B sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari pekerjaan yang layak untuk keluarganya. Namun takdir berkata lain. Bapak B dapat bergantung hanya kepada kardus dan barang-barang plastik lainnya. Ya, bapak B adalah seorang pemulung.
Kemudian hari, yang kebetulan bapak A dan bapak B dipertemukan pada saat sholat berjamaah siang hari. Setelah sholat mereka berdua mengahampiri ustad yang sama. Keduanya ingin berkonsultasi dengan ustad tersebut. Ustad mempersilakan keduanya untuk saling menceritakan persoalan yang sedang dialami. Agar persoalan bisa diselesaikan secara bersama.
Sesi ceritapun diawali dengan keluh bapak A
Bapak A : Wahai ustad mengapa Allah memberikan aku penyakit ini? Mengapa Allah tidak menyembuhkan aku, aku telah letih dalam sakit ku. Wahai ustad sungguh aku telah berikhtiar dalam proses pengobatan. Sabarpun telah aku lalui, namun mengapa Allah tidak memberikan aku kesembuhan. Sediiiiikit saja aku ingin merasakan nikmatnya berjalan dengan nyaman.
lalu ustad itu hanya tersenyum dan tak menjawab sepeser kepada Bapak A, dan bahkan beralih kepada bapak B untuk mempersilakan untuk menceritakan masalahnya dan berceritalah bapak B
Bapak B :Wahai ustad apakah aku akan ditakdirkan untuk selalu miskin? Apakah aku selalu ditakdirkan dalam kesedihan yang merana, aku tak sanggup melihat anak dan istri ku hanya makan dua hari sekali bahkan mereka sengaja berpuasa karena kami sulit untuk mendapat makan. Apakah Allah tidak mendengar jerit ku, sungguh aku telah berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak namun Allah tidak menghendaki?
ustad tersebut hanya tersenyum dan belum menjawab, kemudian menatap kedua bapak tersebut, kemudian ustad itu menjawab dengan begitu mudahnya. "Kalian ini sungguh tidak bersyukur"
Bapak A dan Bapak B hanya terdiam dan saling memandang. Sunyipun mencekam ditengah obrolan.
Lalu sang ustad bertanya, "Wahai bapak A dan B jika kalian bertukar nasib, apakah mau?"
"Siapa yang tidak mengenal bapak A dengan begitu banyak harta, apakah engkau menginginkan hal tersebut?" Ditanyakan hal tersebut kepada bapak B dan jawaban bapak B mengangguk.
Dan dilanjutkan pembicaraan ustad tersebut, "Namun,, dengan satu hal anda merasakan kekayaan namun nikmat sehat anda akan dicabut oleh Allah, begitupun sebaliknya Bapak A, apakah anda menginginkan sehat seperti yang dirasakan bapak B sekarang namun kekayaan anda dicabut oleh Allah, apakah anda ingin?"
kedunyapun menggeleng......
Begitulah manusia ketika tertimpa musibah tak ada lagi rasanya nikmat yang dapat disyukuri, harusnya apapun yang kita alami saat ini, seterpuruk apapun kita pasti masih banyak hal yang dapat kita syukuri sebelum kenikmatan itu hilang, karena kebanyakan manusia akan baru bersyukur saat dia sudah merasakan kehilangan kenikmatannya. Bagaimanapun posisi kita dengan orang lain pun telah diberi porsi masing-masing untuk mensyukuri hidup. Ketika kita ingin bertukar posisi dengan siapapun itu, kekita kita telah mengetahui kejenuhan dalam hidupnya pasti tak ada yang ingin merasakan dan disitulah baru kita kembali bersyukur dengan apa yang tertimpa kepada kita
Ingat, jangan sampai kita bersyukur ketika nikmat yang kita rasakan itu hilaaaaaaaaaang.....
Selasa, 30 Juli 2013
Minggu, 23 Juni 2013
Urusan Hati Part 3
Ketika selesai belajar untuk persiapan presentasi kimia di laboratorium kimia Aisyahpun segara keluar dan lekas berlari kekelas. Sore itu sudah tak ada murid-murid mungkin tinggal Aisyah dan lima orang lainnya yang belajar bersamanya. Aisyah kekelas karena dia tidak sengaja meninggalkan kunci motornya. Kebetulan lab kimia berada dilantai dasar sedangkan kelas Aisyah 11 IPA 1 berada dilantai dua. Berlarilah iya sendiri keatas dan menuju kelasnya.
Beruntunglah samapi kekelas, kelasnya belum terkunci dan sedag disapu oleh penjaga sekolah. Ia mencari mejanya kemudian dapat!! Yah kuncinya berada dikolong meja Aisyah. Langsung ia bergegas ke arah tangga dan turun ke lantai dasar untuk menuju parkiran. Tapi....... tunggu dulu!! Aisyah saat itu mendengar suara isak tangis perempuan. Bulu kuduknya langsung pada bangkit. Kemudian ia telusururi anak tangga satu persatu semakin ia lewati semakin terdengar suaranya. Mungkin itu adalah suara manusa sungguhan, pikirnya begitu.
Ketika ia berbelok dari tangga kemudian.......... Yahhh dia melihat Cakra dan Ria sedang berpelukan, Ria sedang mengis sedu dipelukan Cakra. Rasanya saat itu Aisyah ingin sekali teriak dan marah. Aisyah marah bukan karena perlakuan dan tindakannya tidak sesuai syariat atau apalah itu mungkin sudah biasa bagi orang berpacaran masa kini. Aisyah benar-benar cemburu. Aisyahpun meneteskan air mata saat ia melihat Cakra dan Ria berpelukan. Kemudian Aisyah berbalik arah dan mencari jalan lain untuk menuju parkiran.
Pada awalnya Aisyah menganalisa mengapa ia harus menangis? Harusnya benar-benar biasa saja jika perasaannya sudah netral? Ia benar-benar merasa bahwa ia cemburu. Jika ia tidak suka dengan perlakuan Cakra yang memeluk Ria lalu mengapa ia harus menangisinya?
"Ya Rabb, mengapa Engkau hadirkan rasa ini kembali? Jika aku menangisnya apakah aku cemburu? Ya Rabb namun aku benar cemburu, aku tak bisa membohongi hati kecil ku ya Rabb. Engkau sungguh lebih mengetahui isi jegolak hati ini."
Setelah kejadian itu Aisyah selalu menghindar saat bertemu Cakra sebenarnya Aisyah tidak ingin melakukan hal itu, Aisyah tak berani menatap Cakra atau sekedar ramah memberi senyum namun Aisyah takut jika matanya dapat berbicara hitung..hitung Aisyah jaga pandangan. Saat bertemu Ria pun Aisyah sedikt geram dalam hatinya meski sering kali Ria melontar senyum kepada Aisyah. Aisyah pun berbalas senyum namun kegelisahan hati mengeuasainya.
Semenjak itu Aisyah selalu berusaha lari dari perasaan tersebut dan mencoba tenang untuk selalu berani mengontrol dirinya. Aisyah harus sadar bahwa Aisyah memang masih mencintai Cakra dalam diamnya. Meski perasaan yang sering ia rasakan adalah kenetralan.
"Namun hati kecil tak pernah bohong. Dan hanya Allah yang mengetahui isi hati ku sesungguhnya",Aisyah berbisik dalam hati.
Beruntunglah samapi kekelas, kelasnya belum terkunci dan sedag disapu oleh penjaga sekolah. Ia mencari mejanya kemudian dapat!! Yah kuncinya berada dikolong meja Aisyah. Langsung ia bergegas ke arah tangga dan turun ke lantai dasar untuk menuju parkiran. Tapi....... tunggu dulu!! Aisyah saat itu mendengar suara isak tangis perempuan. Bulu kuduknya langsung pada bangkit. Kemudian ia telusururi anak tangga satu persatu semakin ia lewati semakin terdengar suaranya. Mungkin itu adalah suara manusa sungguhan, pikirnya begitu.
Ketika ia berbelok dari tangga kemudian.......... Yahhh dia melihat Cakra dan Ria sedang berpelukan, Ria sedang mengis sedu dipelukan Cakra. Rasanya saat itu Aisyah ingin sekali teriak dan marah. Aisyah marah bukan karena perlakuan dan tindakannya tidak sesuai syariat atau apalah itu mungkin sudah biasa bagi orang berpacaran masa kini. Aisyah benar-benar cemburu. Aisyahpun meneteskan air mata saat ia melihat Cakra dan Ria berpelukan. Kemudian Aisyah berbalik arah dan mencari jalan lain untuk menuju parkiran.
Pada awalnya Aisyah menganalisa mengapa ia harus menangis? Harusnya benar-benar biasa saja jika perasaannya sudah netral? Ia benar-benar merasa bahwa ia cemburu. Jika ia tidak suka dengan perlakuan Cakra yang memeluk Ria lalu mengapa ia harus menangisinya?
"Ya Rabb, mengapa Engkau hadirkan rasa ini kembali? Jika aku menangisnya apakah aku cemburu? Ya Rabb namun aku benar cemburu, aku tak bisa membohongi hati kecil ku ya Rabb. Engkau sungguh lebih mengetahui isi jegolak hati ini."
Setelah kejadian itu Aisyah selalu menghindar saat bertemu Cakra sebenarnya Aisyah tidak ingin melakukan hal itu, Aisyah tak berani menatap Cakra atau sekedar ramah memberi senyum namun Aisyah takut jika matanya dapat berbicara hitung..hitung Aisyah jaga pandangan. Saat bertemu Ria pun Aisyah sedikt geram dalam hatinya meski sering kali Ria melontar senyum kepada Aisyah. Aisyah pun berbalas senyum namun kegelisahan hati mengeuasainya.
Semenjak itu Aisyah selalu berusaha lari dari perasaan tersebut dan mencoba tenang untuk selalu berani mengontrol dirinya. Aisyah harus sadar bahwa Aisyah memang masih mencintai Cakra dalam diamnya. Meski perasaan yang sering ia rasakan adalah kenetralan.
"Namun hati kecil tak pernah bohong. Dan hanya Allah yang mengetahui isi hati ku sesungguhnya",Aisyah berbisik dalam hati.
Senin, 10 Juni 2013
Urusan Hati Part 2
Saat itu Aisyah sedang berbaring melepas letih dikasur sambil memandang atap langit yang putih, kemudian dia tersenyum, "Mungkin sekarang jika digambarkan kondisi hati ku persis seperti atap langit itu", seraya tertawa geli. Cakra memang sudah tak dihati namun bagaimanapun Cakra akan tetap menjadi cerita bagi anak dan cucu Aisyah nanti. Cakra memang sudah memilih jalannya untuk menjalin kasih bersama wanita lain, dan perasaan Aisyah pun benar-benar ikhlas tanpa rasa tersakiti. Karena dalam doanya Aisyah selalu menyebutkan..
"Ya Rabb, Yang Maha Mengetahui isi hati ku, Engkau Sang Maha Pemilik hati ini, hamba tau ya Rabb perasaan ini adalah perasaan yang timbul karena fitrah namun perasaan ini sungguh mengusik kedamaian ku bersama Mu, sunggu menggagu pikiran ku dikala sendiri, jika dia memang yang terbaik untuk ku maka dekatkanlah kami dengan cara-Mu. Dan jika dia bukan yang terbaik untuk ku, maka lupakanlah dia dari pikiranku, dan jauhkan kami dengan caraMu, dan ikhlaskan hati kami dalam menjalani semua yang terbaik, aamiin."
"Allah telah menjawab segala pinta ku, terimakasih ya Rabb, hamba betul-betul paham cara Mu mengujij hati ini" Bisik hati Aisyah.
Kemudian, seketika Aisyah mengingat-ingat kejadian tadi siang.
Cakra untuk pertamakalinya menegur dan meminta waktu Aisyah untuk membicarakan sesuatu. Saat itu Aisyah tidak sama sekali merasa takut atau bahkan ge-er Cakra akan berbicara serius tentang perasaannya atau tentang urusan hati Aisyah terhadap Cakra. Lagi pula saat diajak bicara dengan Cakra entah mengapa hati Aisyah sudah tak berdetik lagi. Rasanya benar-benar netral seperti bicara dengan teman laki-lakinya yang lain.
"Assalamualaikum, syah?"
"Walaikumussalam, ada apa yah?"
"Bolehkah kita berbicara sebentar?"
"Untuk apa? Soal apa?"
"Soal... Mmm... Yasudah bicarakan saja nanti, bagaimana bisa tidak?"
"Yasudah, jangan terlalu lama ya saya tak enak dilihat orang"
"Baiklah, bagaimana kita bicarakan ini ditempat ramai?"
"Ya..ya..yaa" Aisyah begitu setuju dengan ajakan tersebut kemudian Aisyah juga memberi saran, "Cakra mohon maaf bagaimana jika saya mengajak Kintan?"
"Sebenarnya sih aku tak enak, ya.. baiklah jika itu permintaan mu, kalau begitu aku menunggu mu dikantin sekolah saja yaa.?"
"Yasudah nanti aku menyusul bersama Kintan. Assalamualaikum" Aisyah berjalan kebelakang kemudian lari meninggalkan Cakra untuk mencari Kintan.
Yaa Kintan adalah sahabat Aisyah, Kintan lah orang yang paling mengerti Aiysah dan begitulah sebaliknya.
Mmm.. biasanya Kintan itu suka banget nongkrong di lab biologi kayaknya aku cari kesana aja deh. Begitulah pikiran Aisyah.
Aisyah menceritakan semuanya kepada Kintan. Namun Kintan sempat menolak, karena tak enak dengan Cakra. Namun dia lebih tak enak lagi jika sahabatnya di fitnah pacaran dengan lelaki yang selama ini digosipkan itu.
Akhirnya saat dikantin Cakra sedang bemesraan dengan Ria, Ria adalah teman sekelas Cakra. Aisyah dan Kintan saling memandang dan tertawa geli ketika melihatnya. Ya.. syukurnya gosip kedekatan Cakra dan Ria telah sampai ketelinga mereka. Kemudian Aisyah langsung mengoneksikan pikirannya dengan ajakan Cakra tadi, pikir ku Cakra akan mengenalkan ku tentang Ria, tapi untuk apa?..
Akhirnya Kintan yang menyapa Cakra, "Hey Cakra, ada apa nih? Mau nraktir kita yaa kasih pajak jadian sama Ria?" Tanyanya sambil mesem-mesem melihat Aisyah.
Ketika Ria melihat Aisyah tatapannya sungguh sinis dan langsung beranjak pamit untuk pulang duluan.
Jelas-jelas Aisyah yang berhati lembut ini merasa sekali jika Ria kesal dengannya, namun mungkin ada maksud yang sangat jelas dari Cakra untuk mengajaknya bicara siang itu.
Yaa akhirnya memang Kintan dilarang untuk memberikan suara dan mendengar pembicaraan namun Kintan persis disebelah Aisyah sambil mengenakan headset
"Maaf yaa Aisyah sebelumnya aku telah mengganggu waktu luang mu, tujuan aku disini sebenernya memang tidak sama sekali untuk memberi mu pajak jadian, maksud ku ingin berbicara dengan mu adalah untuk meminta maaf jika aku telah berlaku salah. Wanita seperti mu tak pantas untuk aku tunggu agar memberikan kejelasan, kabar jadian aku dengan Ria pasti sudahlah sampai ketelinga mu. Dan hal itulah yang membuat ku untuk minta maaf"
"Untuk apa kamu minta maaf? Langkah mu tidaklah salah karena kamu sudah dewasa dan tau yang terbaik untuk mu"
"Iyaa Aisyah, memang sudah lama pula aku menantikan mu dalam sendiri ku. Semakin aku terus menanti mu semakin aku merasakan hal yang acuh dengan sikap mu, aku tak mengerti mungkin sikap mu selama itu adalah untuk menjaga hati dan diri mu. Dan aku sebagai lelaki sungguh menghargai itu. Jika aku dapat memilih, aku akan memilih mu syah"
"Lalu, untuk apa kau beri tahu hal itu pada ku? Untuk apa?"
"Intinya adalah aku hanya ingin mengetahui isi hati mu pada ku saat kamu tahu aku lebih memilih Ria dibandingkan mu"
"Aku sangat bahagia jika kamu memutuskan hal itu tidak ada rasa kesal bahkan cemburu pada mu, untuk apa Aku lakukan itu? Apa untungnya pula bagi ku? Aku memang sempat memiliki rasa-rasa indah saat melihat mu dari jauh tapi itu dulu aku juga tak mengerti perasaan itu telah musnah setelah sebulan yang lalu...."
"Aku ucapkan terimakasih pada mu, karena telah menghargai aku yang hakikatnya adalah sebagai wanita, dan alangkah lebih baiknya jika kamu menghargai semua wanita termasuk Ria..."
"Aku ucapkan terimakasih pada mu, karena telah menghargai aku yang hakikatnya adalah sebagai wanita, dan alangkah lebih baiknya jika kamu menghargai semua wanita termasuk Ria..."
"Aku kira cukup Cakra obrolan kita sampai disini saja, dan menurut saya semua memang sudah jelas adanya.. dan sayapun akhirnya mengerti meski banyak kejanggalan dalam pembicaraan kita."
"Assalamualaikum..."
Aisyah langsung berdiri dan menarik baju Kintan untuk lekas pergi meninggalkan Cakra, karena Aisyah benar-benar takut jika perbincangan tersebut akan menjadi rumit dan semakin menjelimet. Lagi pula Aisyah benar-benar malu saat mengatakan perasaannya yang lalu...
"Huft.. Tadi siang itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, benar-benar excited" Kata Aisyah dalam hati seraya menutup mata untuk menistirahatkan sejenak. Kemdian membaca doa tidur dan berbalik tubuh kekanan
"Huft.. Tadi siang itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, benar-benar excited" Kata Aisyah dalam hati seraya menutup mata untuk menistirahatkan sejenak. Kemdian membaca doa tidur dan berbalik tubuh kekanan
Jumat, 24 Mei 2013
Urusan Hati
Kata Aisyaah dalam hati. "Kita memang harus benar2 jaga hati, masalahnya repot urusannya jika hati sudah tercampur aduk dengan urusan dengki, iri, sombong bahkaan jika hati mu terkena virus cinta."
"Ketika sudah bicara soal cinta tak akan ada habisnya segala sensasi dirasakan, dan tidak ada tamatnya seperti sinetron tv yang hampir berpuluh-puluh ribu episode, setelah menghabiskan ribuan episode kemudian dikemas dalam ribuan season. Yaya.. tak ada ujungnya bagian manapun pantas untuk dikupas dan dijelajahi". Lanjutnya dalam hati sambil melamun..
Saat itu Aisyah sedang melamun dalam halaqoh yang dihadiri jumat sorenya. Ia sedang menunggu giliran untuk menyetor hafalan, merasa sudah hafal atau entah mengapa pikirannya menjalar dan mengakar kesana.
Kemudian Aisyah teringat akan seorang lelaki yang ia kagumi, Aisyah sendiripun sering kali bingung jika ditanyakan pada diri sendiri mengapa ia dapat mengaguminya. Menurutnya lelaki itu memang agak berbeda dengan lelaki lainnya. Bahkan sangat beda, entah apa yang membuatnya menjadi beda karna urusan hati itu mungkin semua menjadi bedaaa. Sebut saja lelaki itu adalah Cakra.
Saat itu iya teringat akan sifat Cakra yang belakangan ini agak aneh atau Aisyah yang merasa dirinya berubah. Cakra benar-benar acuh belakangan ini, menurut beberapa orang, Cakra juga mempunyai hati kepadanya. Namun Aisyah selalu menutup semua pintu untuk tetap menjaga hati. Yah meski Cakra juga tak pernah katakan sinyal atau apa, tapi Aisyah benar-benar tak mengerti Aisyah seperti merasakan apa yang orang-orang katakan padanya.
Memang belakanagan ini Aisyah berusaha untuk menetralkan rasa hatinya dan memfokuskan rasa untuk Sang Kekasih Sejati, Sang Maha Penyang. Namun ketika Cakra mulai acuh ia takut ketika semua akan hilang. Dia juga tak mengerti apa arti rasa yang sungguh menganehkan ini.
Pikiran Aisyah terus sibuk tentang Cakra, entah apa yang membuat ia larut dalam pikiran tersebut. Sambil menunggu giliran sesekali ia melihat Qurannya. Namun pikiran itu tak hilang jua. Aisyah pun seperti terhipnotis dalam pikiran tersebut.
Akhirnya giliran Aisyah yang membaca hafalannya. Setelah semua membaca, murabi pun membagi ilmunya saat itu membahas tentang surga dan neraka. Aisyah mendengar namun pikiranya lagi-lagi bicara soal hati
"ketika perasaan itu datang memang awalnya dunia terasa indah berasa merah jambu semuanya, ditengah-tengah mulai bosan agak sedikit kelam, lama-lama menjadi kelam bahkan apa katanya galau, entahlah hati... oh hati jika hati dapat aku kontrol dengan otak maka aku akan menutup hati atau aku memilih masa-masa merah jambunya saja, oiyaa aku baru ingat hati itu pengontrolnya adalah sang IMAN"
benar-benar runyam dalam hati Aisyah dan pikirannya .
Setelah selesai halaqoh dan menutup halaqoh dengan kafaratuk majlis, Aisyah pun baru sadar dari tadi ia sibuk sendiri dengan urusan hati dan pikiranya, keluar dari masjidpun langkahnya penuh makna, satu langkah demi langkah ia termenung dan menunduk.
Ketika langkahnya tidak terlalu jauh dari masjid ia melihat Cakra berjalan menuju arahnya sepertinya ia ingin ke mesjid, tapi untuk apa? Ia tak mungkin sholat dzuhur, untuk apa ia kearah masjid? Atau hanya numpang buang air kecil? Atau mau kearah parkiran. Lagi-lagi pikirannya sibuk.
Tanpa sadar Cakra yang diperhatikan Aisyah dari jauh semakin dekat dan tatapan mata Cakra menyorot peerhatianya tanpa melihat langkan didepan, ada 20 detik mereka bertatap dan Aisyah pun tersadar bahwa sorotan matanya telah terbius, dan jantungpun mulai berdetak, ia merasakan hal yang sama saat pertama kali menatap Cakra. Ya Allah apakah rasa ini kembali lagi dalam hati ku?, teriaknya dalam hati
Setelah Aisyah segera mengalihkan pandangan ia mempercepat langkahnya seraya tak peduli lagi mau kemana arah tujuan Cakra berjalan dan kemudian terpikir ketika tadi halaqoh ia benar-benar terpikir Cakra, dan yang sekarang terjadi adalah Aisyah bertemu bahkan menatap Cakra. Aisyah lihatpun Cakra menatap penuh makna namun entahlah suka-suka hati Aisyah menafsirkan~
"Ketika sudah bicara soal cinta tak akan ada habisnya segala sensasi dirasakan, dan tidak ada tamatnya seperti sinetron tv yang hampir berpuluh-puluh ribu episode, setelah menghabiskan ribuan episode kemudian dikemas dalam ribuan season. Yaya.. tak ada ujungnya bagian manapun pantas untuk dikupas dan dijelajahi". Lanjutnya dalam hati sambil melamun..
Saat itu Aisyah sedang melamun dalam halaqoh yang dihadiri jumat sorenya. Ia sedang menunggu giliran untuk menyetor hafalan, merasa sudah hafal atau entah mengapa pikirannya menjalar dan mengakar kesana.
Kemudian Aisyah teringat akan seorang lelaki yang ia kagumi, Aisyah sendiripun sering kali bingung jika ditanyakan pada diri sendiri mengapa ia dapat mengaguminya. Menurutnya lelaki itu memang agak berbeda dengan lelaki lainnya. Bahkan sangat beda, entah apa yang membuatnya menjadi beda karna urusan hati itu mungkin semua menjadi bedaaa. Sebut saja lelaki itu adalah Cakra.
Saat itu iya teringat akan sifat Cakra yang belakangan ini agak aneh atau Aisyah yang merasa dirinya berubah. Cakra benar-benar acuh belakangan ini, menurut beberapa orang, Cakra juga mempunyai hati kepadanya. Namun Aisyah selalu menutup semua pintu untuk tetap menjaga hati. Yah meski Cakra juga tak pernah katakan sinyal atau apa, tapi Aisyah benar-benar tak mengerti Aisyah seperti merasakan apa yang orang-orang katakan padanya.
Memang belakanagan ini Aisyah berusaha untuk menetralkan rasa hatinya dan memfokuskan rasa untuk Sang Kekasih Sejati, Sang Maha Penyang. Namun ketika Cakra mulai acuh ia takut ketika semua akan hilang. Dia juga tak mengerti apa arti rasa yang sungguh menganehkan ini.
Pikiran Aisyah terus sibuk tentang Cakra, entah apa yang membuat ia larut dalam pikiran tersebut. Sambil menunggu giliran sesekali ia melihat Qurannya. Namun pikiran itu tak hilang jua. Aisyah pun seperti terhipnotis dalam pikiran tersebut.
Akhirnya giliran Aisyah yang membaca hafalannya. Setelah semua membaca, murabi pun membagi ilmunya saat itu membahas tentang surga dan neraka. Aisyah mendengar namun pikiranya lagi-lagi bicara soal hati
"ketika perasaan itu datang memang awalnya dunia terasa indah berasa merah jambu semuanya, ditengah-tengah mulai bosan agak sedikit kelam, lama-lama menjadi kelam bahkan apa katanya galau, entahlah hati... oh hati jika hati dapat aku kontrol dengan otak maka aku akan menutup hati atau aku memilih masa-masa merah jambunya saja, oiyaa aku baru ingat hati itu pengontrolnya adalah sang IMAN"
benar-benar runyam dalam hati Aisyah dan pikirannya .
Setelah selesai halaqoh dan menutup halaqoh dengan kafaratuk majlis, Aisyah pun baru sadar dari tadi ia sibuk sendiri dengan urusan hati dan pikiranya, keluar dari masjidpun langkahnya penuh makna, satu langkah demi langkah ia termenung dan menunduk.
Ketika langkahnya tidak terlalu jauh dari masjid ia melihat Cakra berjalan menuju arahnya sepertinya ia ingin ke mesjid, tapi untuk apa? Ia tak mungkin sholat dzuhur, untuk apa ia kearah masjid? Atau hanya numpang buang air kecil? Atau mau kearah parkiran. Lagi-lagi pikirannya sibuk.
Tanpa sadar Cakra yang diperhatikan Aisyah dari jauh semakin dekat dan tatapan mata Cakra menyorot peerhatianya tanpa melihat langkan didepan, ada 20 detik mereka bertatap dan Aisyah pun tersadar bahwa sorotan matanya telah terbius, dan jantungpun mulai berdetak, ia merasakan hal yang sama saat pertama kali menatap Cakra. Ya Allah apakah rasa ini kembali lagi dalam hati ku?, teriaknya dalam hati
Setelah Aisyah segera mengalihkan pandangan ia mempercepat langkahnya seraya tak peduli lagi mau kemana arah tujuan Cakra berjalan dan kemudian terpikir ketika tadi halaqoh ia benar-benar terpikir Cakra, dan yang sekarang terjadi adalah Aisyah bertemu bahkan menatap Cakra. Aisyah lihatpun Cakra menatap penuh makna namun entahlah suka-suka hati Aisyah menafsirkan~
Langganan:
Postingan (Atom)