Judul postingan gua kali ini sudah cukup mewakili isi cerita yang akan gua jabarkan pada postingan yang ke 19 ini. Oke langsung saja masuk pada ceritanya.
Annisa yang sedang belajar pada malam hari. Ia sangat rajin membuat rangkuman untuk setiap diadakan ulangan. Kebetulan besok adalah ulangan harian geografi. Bukan hanya cerdas otaknya namun juga hatinya. Bisa dibilang wanita ini adalah sosok yang hampir sempurna. Gadis belia yang duduk di kelas 10 SMAN ternama dikotanya juga menjadi incaran lawan jenisnya. Pengetahuannya tentang agamapun membuat ia menjadi semakin eksis di sekolahnya.
Tiba-tiba ditengah asyiknya ia membuat rangkuman ternyata pulpennya habis. "Nyaris, mengapa ditengah jalan aku menulis tinta ini harus abis", keluhnya dalam hati. Kemudian dibukanya laci yang berada dimeja belajarnya untuk mencari pulpen stokan yang sengaja ia simpan untuk persedian. Ternyata nasibnya kurang berutung malam itu. Pulpen yang ia caripun telah habis stoknya. Ia pun mencari pulpen dirumahnya untuk melnajutkan rangkuman yang tinggal setengah perjalanan lagi. Ironisnya tak ada pulpen yang dapat dipinjam dan tergeletak begitu saja. Baginya rangkumkan itu sangat berarti untuk keberhasilan ulangan besok.
Kemudian akhirnya ia pun keluar rumah untuk mencari pulpen. Semangat membara berburu pulpen, pikrnya "Semakin cepat ia mendapatkan pulpennya semakin cepat pula rangkuman itu selesai dan semakin cepat pula siap ulangan." Ternyata entah hari apa itu mengapa tidak biasanya toko-toko yang ada disekeliling rumayhnya pun telah tutup. Diseperjalanan ia pulang sekilas ia menunduk memastikan pukul berapa ini. Ternyata jam sudah menunjukan pukul 20.50 malam.
Kembalinya ia kerumah membujuk Abangnya untuk menemaninya pergi ke supermarket untuk membeli pulpen. Seribu alasanpun dibeberkan oleh abangnya untuk menolak permintaan adeknya. "Ini sudah malam jangan maksa deh, jangan rajin-rajin bangetlah besok juga bisa ko beli pulpen." Lanjutnya lagi, "Guru-guru juga tau kamu anak yang pintar nggak mungkin dikasih jelek ko dirapot." Terus dan terus namun Annisa pun tak luluh hatinya. Ia masih bertekat keras untuk membeli pulpen. Akhirnya berangkatlah ia ke supermarket yang cukup jauh dari rumahnya. Diambilnya kunci motor seraya berkata kepada Abangnya dengan ketus, "Kalo nggak mau nganterin yaudah bilang aja dong dari tadi nggak usah basa-basi segala!" dan dibukanya pintu tak lupa dalam keadaan kesal Annisa pun tetap meninggalkan rumah dengan mengucap salam, "Assalamualaikum!"
Sepanjang ia mengendarai motor hatinya begitu kesal karena Abangnya tak begitu peduli padanya, pikirnya tak ada inisiatirf Abangnya untuk mencegah atau terpanah hatinya untuk menemani adiknya. Bagaimana jika aku kenapa-kenapa nantinya.Gelisahnya Annisa seketika. Namun ia tetap memaksakan untuk pergi.
Sesampainya di supermarket, ia memarkir motor dan melihat ada dua laki-laki yang sedang duduk-duduk tidak jelas dipinggir parkiran. Sekilas hatinya pun mulai takut karena pandangan laki-laki itu agak aneh dan mencurigakan. Pikirnya, "Jangan shuudzon nis!". Masuklah Annisa kedalam supermarket dan memborong pulpen dan cemilan kecil untuk menemani belajarnya nanti. Ketika kakinya ingin melangkah keluar hatipun mulai deg-deg-an. Jam tangan yang dikenakan Annisa telah menunjukan pukul 22.10. Tak pantas seorang wanita keluar malam tanpa ditemani seorang mahrom, pikirnya sejenak. Semakin ia melangkah menuju parkiran semakin ia ragu.
Tapi tak mungkin ia harus stay di supermarket. Ia harus pulang dan menyelesaikan pekerjaannya. Hatinya benar-benar ragu. Ternyata keraguannya untuk keluar dari supermarket pun terjawab.
Kedua laki-laki itupun mendekati Annisa, kemudian merangkulnya. Ditarik kerudungnya hingga terlihat helaian rambutnya. Annisa pun telah mengelah, ia begitu marah dan benci terhadap laki-laki itu. Mereka hanya tertawa keji dihadapan Annisa. Dalam keadaan panik Annisa tak bisa berfikir banyak. Ia lari namun mereka berdua mengambil kunci motor yang digantung dilehernya. Diambil oleh laki-laki yang tak dikenalnya dan punya tatapan cukup aneh baginya. Kedua laki-laki itu entah sengaja atau tidak telah menyentuh bagian yang sangat sensitif bagi para wanita. Didepan Annisa mereka oper-operan kunci. Annisa tak berani mendekat, tak berani berkutik. Dirinya begitu lemah ia hanya dapat menangis. Namun, tak kehabisan akal Annisa pun berteriak meminta tolong. " TOLONG..TOLONG...!!"
Sekitar 5 menit Annisa beridiri dan meminta tolong syukur segala puji bagi Allah seorang kasir laki-laki dan tukang ojek yang baik hati dapat membantu Annisa untuk mengambil kunci yang berada ditangan laki-laki yang tidak jelas itu. Annisa pun masih shock ketika hal itu menimpanya. Ketiak kuncinya telah dikembalikan padanya ia tak sempat mengucapkan terimakasih ia langsung mengendarai motor dan menangis tersendu-sendu merasa begitu sakit hatinya diperlakukan sedemikian rupa oleh orang yang ia tidak kenal.
Pulangnya kerumah ia langsung masuk kamar dan tak berkata apapun kepada yang dirumah. Begitu tersayat hati Annisa telah dilecehkan seperti itu, ketika hal ini telah terjadi siapa yang harus disalahkan? Abang yang tidak ingin mengantarkannya? Atau kedua laki-laki itu yang tidak punya moral! Yang tidak mengetahui norma! Yang tak mengerti tentang agama dan menghargai wanita! Tapi Annisa pun sadar ia telah egois.
Keegoisannya telah mentup matanya akan hal buruk yang akan tertimpa olehnya. Begitu menyesalnya ia telah egois. Kemudian muncul seribu "SEANDAINYA" dalam otaknya....
Seandainya aku bisa mengerti cemohoan Abang aku tak akan berangkat dan tetap menunggu hari esok untuk sebuah pulpen. Seandainya aku lebih bijak dalam memutuskan masalah aku tak akan seperti ini. Seandainya aku bisa silat, aku bisa kung fhu sudah tewas laki-laki jahanam itu ditangan ku. Seandainya aku tahu akan terjadi hal itu aku tak akan pergi. Seandainyaaaaa..... Seandainyaaa.............. Seandainya....
Dalam malam yang sunyi ia hanya berpikir keras untuk menutupi aibnya itu. Tak ada satu anggota keluargapun yang tahu tentang peristiwa tersebut. Baginya adalah pelajaran berharga dalam peristiwa itu. Ia juga ucap syukur karena masih ada orang yang ingin menolong dirinya. Apa yang akan terjadi siapa yang tahu?
Esok harinya ia tetap berjuang menghadapi ulangan geografi. Dan menutup buku tentang peristiwa malam itu.
Banyak makna yang dapat diambil bagi para pembaca semoga hal ini dapat menjadi pelajaran berharga pula bagi pembaca dan khusunya bagi saya juga.
What do you thing about this story?
Minggu, 01 Juli 2012
Sabtu, 02 Juni 2012
M I S S
Rindu bukan sekedar rindu, pasrah bukan sekedar pasrah namun diam dalam amarah mungkin kalimat itu lebih tepat untuk mengawali postingan saya yang ke 15.
Yah biasalah karena blog adalah salah satu tempat tumpahan cerita dan curahan individu, seperti posting saya yang ke 9 disini akan mencurahkan isi hati yang bener-bener terpendam, haha *agak lebay*
Yah aku rindu dengan ke 38 sahabat ku, kebersamaan yang telah dibangun selama 3 tahun itu lenyap. Kini hilang, mungkin hal ini sangatlah basi untuk diungkit namun, aku bukan hanya sekedar rindu dengan seribu karakter mereka. Akan tetapi segala-galanya suasana pondok yang tentram dan tenang itulah yang membuat ku rindu dan ingin berkunjung kesana. Namun, kondisi lain yang tidak memungkinkan aku untuk menginjakkan kaki ke tempat itu lagii. Seribu alasan, dari masalah isi dompet atau kondisi cuaca yang mengenaskan dan yang terpenting adalah para musyrifaaah *prontal aja gak bakaal baca* yah emang nggak semua musyrifah punya watak yang nyebelin dan gak welcome sama kedatangan aku atau teman-temann lainnya tapi kejadian kemaren udah cukup membuat aku parno buat berkunjung lagi.
Hal ini yang menjadi batin dalam hati, punya dua sisi yang emang harus dijalanin dan kalo udah begini siapa yang mau disalahin? Sisi pertama aku rindu dan ingin bertemu namun disisi kedua aku harus menahan rasa rindu dan hasrat ingin bertemu temen-temen agar gak nyemplung pada lubang yang sama.
Sebenernya juga yang aku rindukan itu bukan hanya sekedar ngobrol dan ngabisin waktu gak jelas sama temen-temen. Namun disisi lain aku rindu masa-masa aku rindu dengan keluarga :D
Masa-masa sebagai santri, rindu makan 1 piring lima orang, rindu berebut kamar mandi sama Nabila Putri Makhfi, buat forum diatas kasur bareng Nisail Mughni. Belajar bareng diserambi mesjid sambil tidur-tiduran bareng Astrid Ayu Wijayanti atau belajar nahwu bareng sama Nisa Fadhlilah, Zakiyah Hasna di ruang makan.
Ngenjailin Afina Maziyatunnisa sampe buat dia nangis :D
Rindu banget saat-saat itu, apalagi kalo bulan ramadhan kabur tarawih ke sakan sama Salsabila Nafisa, dan forum dewasa bersama Fathimah Ahmadzawawi, Nisrina Nuryhuza, Kanzia Rachmi, Sekar Ekawati Parasiwi, juga Husna Zulfa di kamar 5, haha ngobrol masalah nikah :D *ada-ada aja
Kangen juga sih diomelin ama musyrifah yang bawel-bawel *eeh.
Terkadang juga kangen sama cengeng dan bawelnya Mutia Quratu Ayuni :D
Oh iyaaa masak-masak di sakan musyrifah juga kangen haha yang sebenernya aja nggak begitu dapet restu dari para musyrifahnya :D *namanya juga qonita ngeyel banget*
Tapi waktu itu ada pengalaman konyol masak bareng ustdzah iroh sama Indi Nurwafi juga Winona Layli Zenanda, dll, masak nasi liwet, yah dengan kepolosan yang sangat bodoh waktu itu segala di aduk masak nasi liwetnya padahal kalo masak nasi liwet maaah kagak usah diaduk *odong emang* kan kagak tau ssayaaaa :D *tanpa dosa*
Banyak banget hal yang buat rindu, denger lelucon dan cerewet juga berisiknya Salza Aisyah Manora Harahap kalo lagi di mesjid. Dengerin Andi Ifath curhat juga ngangenin. Nasehat Andi Suhaila Ihsan juga nganenin bangeet
Pokoknya banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget yang sulit buat disebutin satu-satu dan semua itu juga nggak akan aku dapetin lagi sekalinya aku berkunjung kesana atau samapi nginep sekalipun nggak akan bisa terulang kembali semuanyaaaa...
Kalo dibilang nyesel keluar dari tempat itu yah nggak sama sekali ! Tapi aku kangen aja sama segalanyaaaa yang nggak bakal didapetin diluar kalopun sampe mondok lagi belum tentu dapet temen yang solidaritasnya tinggi kaya mereka :)
I M I S S Y O U A L L :*
Yah biasalah karena blog adalah salah satu tempat tumpahan cerita dan curahan individu, seperti posting saya yang ke 9 disini akan mencurahkan isi hati yang bener-bener terpendam, haha *agak lebay*
Yah aku rindu dengan ke 38 sahabat ku, kebersamaan yang telah dibangun selama 3 tahun itu lenyap. Kini hilang, mungkin hal ini sangatlah basi untuk diungkit namun, aku bukan hanya sekedar rindu dengan seribu karakter mereka. Akan tetapi segala-galanya suasana pondok yang tentram dan tenang itulah yang membuat ku rindu dan ingin berkunjung kesana. Namun, kondisi lain yang tidak memungkinkan aku untuk menginjakkan kaki ke tempat itu lagii. Seribu alasan, dari masalah isi dompet atau kondisi cuaca yang mengenaskan dan yang terpenting adalah para musyrifaaah *prontal aja gak bakaal baca* yah emang nggak semua musyrifah punya watak yang nyebelin dan gak welcome sama kedatangan aku atau teman-temann lainnya tapi kejadian kemaren udah cukup membuat aku parno buat berkunjung lagi.
Hal ini yang menjadi batin dalam hati, punya dua sisi yang emang harus dijalanin dan kalo udah begini siapa yang mau disalahin? Sisi pertama aku rindu dan ingin bertemu namun disisi kedua aku harus menahan rasa rindu dan hasrat ingin bertemu temen-temen agar gak nyemplung pada lubang yang sama.
Sebenernya juga yang aku rindukan itu bukan hanya sekedar ngobrol dan ngabisin waktu gak jelas sama temen-temen. Namun disisi lain aku rindu masa-masa aku rindu dengan keluarga :D
Masa-masa sebagai santri, rindu makan 1 piring lima orang, rindu berebut kamar mandi sama Nabila Putri Makhfi, buat forum diatas kasur bareng Nisail Mughni. Belajar bareng diserambi mesjid sambil tidur-tiduran bareng Astrid Ayu Wijayanti atau belajar nahwu bareng sama Nisa Fadhlilah, Zakiyah Hasna di ruang makan.
Ngenjailin Afina Maziyatunnisa sampe buat dia nangis :D
Rindu banget saat-saat itu, apalagi kalo bulan ramadhan kabur tarawih ke sakan sama Salsabila Nafisa, dan forum dewasa bersama Fathimah Ahmadzawawi, Nisrina Nuryhuza, Kanzia Rachmi, Sekar Ekawati Parasiwi, juga Husna Zulfa di kamar 5, haha ngobrol masalah nikah :D *ada-ada aja
Kangen juga sih diomelin ama musyrifah yang bawel-bawel *eeh.
Terkadang juga kangen sama cengeng dan bawelnya Mutia Quratu Ayuni :D
Oh iyaaa masak-masak di sakan musyrifah juga kangen haha yang sebenernya aja nggak begitu dapet restu dari para musyrifahnya :D *namanya juga qonita ngeyel banget*
Tapi waktu itu ada pengalaman konyol masak bareng ustdzah iroh sama Indi Nurwafi juga Winona Layli Zenanda, dll, masak nasi liwet, yah dengan kepolosan yang sangat bodoh waktu itu segala di aduk masak nasi liwetnya padahal kalo masak nasi liwet maaah kagak usah diaduk *odong emang* kan kagak tau ssayaaaa :D *tanpa dosa*
Banyak banget hal yang buat rindu, denger lelucon dan cerewet juga berisiknya Salza Aisyah Manora Harahap kalo lagi di mesjid. Dengerin Andi Ifath curhat juga ngangenin. Nasehat Andi Suhaila Ihsan juga nganenin bangeet
Pokoknya banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget yang sulit buat disebutin satu-satu dan semua itu juga nggak akan aku dapetin lagi sekalinya aku berkunjung kesana atau samapi nginep sekalipun nggak akan bisa terulang kembali semuanyaaaa...
Kalo dibilang nyesel keluar dari tempat itu yah nggak sama sekali ! Tapi aku kangen aja sama segalanyaaaa yang nggak bakal didapetin diluar kalopun sampe mondok lagi belum tentu dapet temen yang solidaritasnya tinggi kaya mereka :)
I M I S S Y O U A L L :*
Sabtu, 28 April 2012
Jalan Ku
Menutupi ketakutan.
Berselimut dalam kesendirian.
Mengaggumi tanpa dia pun tak tahu.
Hanya itu yang dapat aku lakukan.
Aku berani berlari untuk menghindar.
Aku teralalu lemah untuk berkutik.
Akupun tak berani menatap.
Karena..
Itu terlalu rumit untuk aku raih,
Begitu sulit untuk aku genggam.
Namun..
Begitu mudah untuk dilupakan.
Karena aku mengerti.
Kita terhalang oleh ikatan itu.
Biarkan aku hanya dapat mengaggumi mu.
Minggu, 08 April 2012
Tigapuluh Sembilan Bintang
Berawal dari 42 orang terpilih berkumpul dalam majlis yang sama. Namun, satu demi satupun berguguguran hingga genap 39 oramg.Mereka mendapat bimbingan dari 3 serangkai, 4 serangkai dan 2 bersaudara.
Pada tahun pertama mereka begitu hebat dapat memikat hati para pembimbing mereka.
Itu pada tahun pertama !
Tahun kedua pun mereka mulai membuat ulah. Ditambah dengan kepergian 4 serangkai dan 2 bersaudara juga 3 serangkai yang tak dapat tinggal menetap lagi. Mereka berguguran karena harus melanjutkan studynya dan ada pula yang harus tinggal bersama suaminya.
Tahun kedua dimana mereka merasa kehilangan sosok yang selama kemarin mereka amat benci. Mereka sungguh menyesal karena dahulu sempat membenci sosok yang seharus nggak mereka benci. Yang semestinya mereka saayangin karena sosoknya pengganti seorang ibu.
Penyesalan tinggalah kata. Semua harus menjalani lagi karena tak mungkin mereka terpuruk dan berhenti pada satu titik.
Ketika para pembimbing dulu mulai pergi peraturan pun mulai pergi berganti alih dan cukup aneh. Satu demi satu dari merekapun berani membuat ulah. Dan membuat para pembimbing bingung A P A M A U K A L I A N ? ?
Perubahan drastis yang terlihat pembimbing tetap membuatnya bingung. Percaya atau tidak disaat itu pulalah merasakan hangatnya kebersamaan. Indahnya diomelin sama-sama. Dan keadaan pun semakin membuat cuma T E M A N yang paling ngertiin aku.
Tak terasa akhirnya tahun terakhir mereka tinggal bersama. Rasanya begitu beda dan aneh, ketika segalanya menjadi yang terakhir di albinaa..
Meski pada awal tahun hati mereka benar-benar bertolak belakang dengan keadaan bahwaa mereka tidak boleh satu kamar lagi dalam artian kami harus berbaur dengan ade tingkat. Mungkin agak lebay tapi 2 tahun bersama kemudian dipisahkan begitu saja secara sepihak. Apakah nyaman bagi kami? Namun lagi-lagi mereka tak akan berhenti pada satu titik. Mau atau tidak mereka harus menjalani semuanya.
Kebersamaan semakin terasa didetik-detik perpisahan pada persiapan ujian. Merka benar-benar mereka, mereka berada dalam lingkup yang cukup luas dan hanyalah mereka disana. Bagaimana tak terasa semakin erat?
Dan sampailah pada klimaksnya hari ujian. Di hari-hari itu semakin terasa perjuangan yang dilakukan secara bersama-sama. Dan melepas penat ketika hari terakhir ujian.
Ketika harus berpisah pada saat yang tidak diharapkan. Yang menjadikan sebagai Hidup itu pilihan, sebagian dari mereka memilih berpisah dan melanjutkan ketempat yang insyaAllah tidak kaalah baiknya.
Itulah yang katanya "Setiap Ada Pertemuan Pasti Ada Perpisahan."
Aku pun merasa sangat kehilangan sosok mereka yang merindukan itu .
Tapi aku yakin nanti... kelak.. yang akan datang...
Kami pun akan berkumpul untuk menjadi bintang dilangit menghiasi dunia. Cahayanya dapat terangi hati yang kotor.
insyaAllah be a real muslimah :)
waktu bulan ramadhan ngadain iftar bareng :)
ketika udah mau pulang pas iedul adha poto-poto dulu :D
waktu lebaran iedul adha sempet ngumpul bareng lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)



