Minggu, 01 Juli 2012

Hanya Karena Pulpen

Judul postingan gua kali ini sudah cukup mewakili isi cerita yang akan gua jabarkan pada postingan yang ke 19 ini. Oke langsung saja masuk pada ceritanya.

Annisa yang sedang belajar pada malam hari. Ia sangat rajin membuat rangkuman untuk setiap diadakan ulangan. Kebetulan besok adalah ulangan harian geografi. Bukan hanya cerdas otaknya namun juga hatinya. Bisa dibilang wanita ini adalah sosok yang hampir sempurna. Gadis belia yang duduk di kelas 10 SMAN ternama dikotanya juga menjadi incaran lawan jenisnya. Pengetahuannya tentang agamapun membuat ia menjadi semakin eksis di sekolahnya.

Tiba-tiba ditengah asyiknya ia membuat rangkuman ternyata pulpennya habis. "Nyaris, mengapa ditengah jalan aku menulis tinta ini harus abis", keluhnya dalam hati. Kemudian dibukanya laci yang berada dimeja belajarnya untuk mencari pulpen stokan yang sengaja ia simpan untuk persedian. Ternyata nasibnya kurang  berutung malam itu. Pulpen yang ia caripun telah habis stoknya. Ia pun mencari pulpen dirumahnya untuk melnajutkan rangkuman yang tinggal setengah perjalanan lagi. Ironisnya tak ada pulpen yang dapat dipinjam dan tergeletak begitu saja. Baginya rangkumkan itu sangat berarti untuk keberhasilan ulangan besok.

Kemudian akhirnya ia pun keluar rumah untuk mencari pulpen. Semangat membara berburu pulpen, pikrnya "Semakin cepat ia mendapatkan pulpennya semakin cepat pula rangkuman itu selesai dan semakin cepat pula siap ulangan." Ternyata entah hari apa itu mengapa tidak biasanya toko-toko yang ada disekeliling rumayhnya pun telah tutup. Diseperjalanan ia pulang sekilas ia menunduk memastikan pukul berapa ini. Ternyata jam sudah menunjukan pukul 20.50 malam.

Kembalinya ia kerumah membujuk Abangnya untuk menemaninya pergi ke supermarket untuk membeli pulpen. Seribu alasanpun dibeberkan oleh abangnya untuk menolak permintaan adeknya. "Ini sudah malam jangan maksa deh, jangan rajin-rajin bangetlah besok juga bisa ko beli pulpen." Lanjutnya lagi, "Guru-guru juga tau kamu anak yang pintar nggak mungkin dikasih jelek ko dirapot." Terus dan terus namun Annisa pun tak luluh hatinya. Ia masih bertekat keras untuk membeli pulpen. Akhirnya berangkatlah ia ke supermarket yang cukup jauh dari rumahnya. Diambilnya kunci motor seraya berkata kepada Abangnya dengan ketus, "Kalo nggak mau nganterin yaudah bilang aja dong dari tadi nggak usah basa-basi segala!" dan dibukanya pintu tak lupa dalam keadaan kesal Annisa pun tetap meninggalkan rumah dengan mengucap salam, "Assalamualaikum!"

Sepanjang ia mengendarai motor hatinya begitu kesal karena Abangnya tak begitu peduli padanya, pikirnya tak ada inisiatirf Abangnya untuk mencegah atau terpanah hatinya untuk menemani adiknya. Bagaimana jika aku kenapa-kenapa nantinya.Gelisahnya Annisa seketika. Namun ia tetap memaksakan untuk pergi.

Sesampainya di supermarket, ia memarkir motor dan melihat ada dua laki-laki yang sedang duduk-duduk tidak jelas dipinggir parkiran. Sekilas hatinya pun mulai takut karena pandangan laki-laki itu agak aneh dan mencurigakan. Pikirnya,  "Jangan shuudzon nis!". Masuklah Annisa kedalam supermarket dan memborong pulpen dan cemilan kecil untuk menemani belajarnya nanti. Ketika kakinya ingin melangkah keluar hatipun mulai deg-deg-an. Jam tangan yang dikenakan Annisa telah menunjukan pukul 22.10. Tak pantas seorang wanita keluar malam tanpa ditemani seorang mahrom, pikirnya sejenak. Semakin ia melangkah menuju parkiran semakin ia ragu.

Tapi tak mungkin ia harus stay di supermarket. Ia harus pulang dan menyelesaikan pekerjaannya. Hatinya benar-benar ragu. Ternyata keraguannya untuk keluar dari supermarket pun terjawab.

Kedua laki-laki itupun mendekati Annisa, kemudian merangkulnya. Ditarik kerudungnya hingga terlihat helaian rambutnya. Annisa pun telah mengelah, ia begitu marah dan benci terhadap laki-laki itu. Mereka hanya tertawa keji dihadapan Annisa. Dalam keadaan panik Annisa tak bisa berfikir banyak. Ia lari namun mereka berdua mengambil kunci motor yang digantung dilehernya. Diambil oleh laki-laki yang tak dikenalnya dan punya tatapan cukup aneh baginya. Kedua laki-laki itu entah sengaja atau tidak telah menyentuh bagian yang sangat sensitif bagi para wanita. Didepan Annisa mereka oper-operan kunci. Annisa tak berani mendekat, tak berani berkutik. Dirinya begitu lemah ia hanya dapat menangis. Namun, tak kehabisan akal Annisa pun berteriak meminta tolong. " TOLONG..TOLONG...!!"

Sekitar 5 menit Annisa beridiri dan meminta tolong syukur segala puji bagi Allah seorang kasir laki-laki dan tukang ojek yang baik hati dapat membantu Annisa untuk mengambil kunci yang berada ditangan laki-laki yang tidak jelas itu. Annisa pun masih shock ketika hal itu menimpanya. Ketiak kuncinya telah dikembalikan padanya ia tak sempat mengucapkan terimakasih ia langsung mengendarai motor dan menangis tersendu-sendu merasa begitu sakit hatinya diperlakukan sedemikian rupa oleh orang yang ia tidak kenal.

Pulangnya kerumah ia langsung masuk kamar dan tak berkata apapun kepada yang dirumah. Begitu tersayat hati Annisa telah dilecehkan seperti itu, ketika hal ini telah terjadi siapa yang harus disalahkan? Abang yang tidak ingin mengantarkannya? Atau kedua laki-laki itu yang tidak punya moral! Yang tidak mengetahui norma! Yang tak mengerti tentang agama dan menghargai wanita! Tapi Annisa pun sadar ia telah egois.

Keegoisannya telah mentup matanya akan hal buruk yang akan tertimpa olehnya. Begitu menyesalnya ia telah egois. Kemudian muncul seribu "SEANDAINYA" dalam otaknya....
Seandainya aku bisa mengerti cemohoan Abang aku tak akan berangkat dan tetap menunggu hari esok untuk sebuah pulpen. Seandainya aku lebih bijak dalam memutuskan masalah aku tak akan seperti ini. Seandainya aku bisa silat, aku bisa kung fhu sudah tewas laki-laki jahanam itu ditangan ku. Seandainya aku tahu akan terjadi hal itu aku tak akan pergi. Seandainyaaaaa..... Seandainyaaa.............. Seandainya....

Dalam malam yang sunyi ia hanya berpikir keras untuk menutupi aibnya itu. Tak ada satu anggota keluargapun yang tahu tentang peristiwa tersebut. Baginya adalah pelajaran berharga dalam peristiwa itu. Ia juga ucap syukur karena masih ada orang yang ingin menolong dirinya. Apa yang akan terjadi siapa yang tahu?

Esok harinya ia tetap berjuang menghadapi ulangan geografi. Dan menutup buku tentang peristiwa malam itu.



Banyak makna yang dapat diambil bagi para pembaca semoga hal ini dapat menjadi pelajaran berharga pula bagi pembaca dan khusunya bagi saya juga.


What do you thing about this story?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar