Jumat, 24 Mei 2013

Urusan Hati

Kata Aisyaah dalam hati. "Kita memang harus benar2 jaga hati, masalahnya repot urusannya jika hati sudah tercampur aduk dengan urusan dengki, iri, sombong bahkaan jika hati mu terkena virus cinta."
"Ketika sudah bicara soal cinta tak akan ada habisnya segala sensasi dirasakan, dan tidak ada tamatnya seperti sinetron tv yang hampir berpuluh-puluh ribu episode, setelah menghabiskan ribuan episode kemudian dikemas dalam ribuan season. Yaya.. tak ada ujungnya bagian manapun pantas untuk dikupas dan dijelajahi". Lanjutnya dalam hati sambil melamun..

Saat itu Aisyah sedang melamun dalam halaqoh yang dihadiri jumat sorenya. Ia sedang menunggu giliran untuk menyetor hafalan, merasa sudah hafal atau entah mengapa pikirannya menjalar dan mengakar kesana.
Kemudian Aisyah teringat akan seorang lelaki yang ia kagumi, Aisyah sendiripun sering kali bingung jika ditanyakan pada diri sendiri mengapa ia dapat mengaguminya. Menurutnya lelaki itu memang agak berbeda dengan lelaki lainnya. Bahkan sangat beda, entah apa yang membuatnya menjadi beda karna urusan hati itu mungkin semua menjadi bedaaa. Sebut saja lelaki itu adalah Cakra.
Saat itu iya teringat akan sifat Cakra yang belakangan ini agak aneh atau Aisyah yang merasa dirinya berubah. Cakra benar-benar acuh belakangan ini, menurut beberapa orang, Cakra juga mempunyai hati kepadanya. Namun Aisyah selalu menutup semua pintu untuk tetap menjaga hati. Yah meski Cakra juga tak pernah katakan sinyal atau apa, tapi Aisyah benar-benar tak mengerti Aisyah seperti merasakan apa yang orang-orang katakan padanya.

Memang belakanagan ini Aisyah berusaha untuk menetralkan rasa hatinya dan memfokuskan rasa untuk Sang Kekasih Sejati, Sang Maha Penyang. Namun ketika Cakra mulai acuh ia takut ketika semua akan hilang. Dia juga tak mengerti apa arti rasa yang sungguh menganehkan ini.

Pikiran Aisyah terus sibuk tentang Cakra, entah apa yang membuat ia larut dalam pikiran tersebut. Sambil menunggu giliran sesekali ia melihat Qurannya. Namun pikiran itu tak hilang jua. Aisyah pun seperti terhipnotis dalam pikiran tersebut.

Akhirnya giliran Aisyah yang membaca hafalannya. Setelah semua membaca, murabi pun membagi ilmunya saat itu membahas tentang surga dan neraka. Aisyah mendengar namun pikiranya lagi-lagi bicara soal hati
"ketika perasaan itu datang memang awalnya dunia terasa indah berasa merah jambu semuanya, ditengah-tengah mulai bosan agak sedikit kelam, lama-lama menjadi kelam bahkan apa katanya galau, entahlah hati... oh hati jika hati dapat aku kontrol dengan otak maka aku akan menutup hati atau aku memilih masa-masa merah jambunya saja, oiyaa aku baru ingat hati itu pengontrolnya adalah sang IMAN"
benar-benar runyam dalam hati Aisyah dan pikirannya .

Setelah selesai halaqoh dan menutup halaqoh dengan kafaratuk majlis, Aisyah pun baru sadar dari tadi ia sibuk sendiri dengan urusan hati dan pikiranya, keluar dari masjidpun langkahnya penuh makna, satu langkah demi langkah ia termenung dan menunduk.

Ketika langkahnya tidak terlalu jauh dari masjid ia melihat Cakra berjalan menuju arahnya sepertinya ia ingin ke mesjid, tapi untuk apa? Ia tak mungkin sholat dzuhur, untuk apa ia kearah masjid? Atau hanya numpang buang air kecil? Atau mau kearah parkiran. Lagi-lagi pikirannya sibuk.

Tanpa sadar Cakra yang diperhatikan Aisyah dari jauh semakin dekat dan tatapan mata Cakra menyorot peerhatianya tanpa melihat langkan didepan, ada 20 detik mereka bertatap dan Aisyah pun tersadar bahwa sorotan matanya telah terbius, dan jantungpun mulai berdetak, ia merasakan hal yang sama saat pertama kali menatap Cakra. Ya Allah apakah rasa ini kembali lagi dalam hati ku?, teriaknya dalam hati

Setelah Aisyah segera mengalihkan pandangan ia mempercepat langkahnya seraya tak peduli lagi mau kemana arah tujuan Cakra berjalan dan kemudian terpikir ketika tadi halaqoh ia benar-benar terpikir Cakra, dan yang sekarang terjadi adalah Aisyah bertemu bahkan menatap Cakra. Aisyah lihatpun Cakra menatap penuh makna namun entahlah suka-suka hati Aisyah menafsirkan~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar