"Ya Rabb, Yang Maha Mengetahui isi hati ku, Engkau Sang Maha Pemilik hati ini, hamba tau ya Rabb perasaan ini adalah perasaan yang timbul karena fitrah namun perasaan ini sungguh mengusik kedamaian ku bersama Mu, sunggu menggagu pikiran ku dikala sendiri, jika dia memang yang terbaik untuk ku maka dekatkanlah kami dengan cara-Mu. Dan jika dia bukan yang terbaik untuk ku, maka lupakanlah dia dari pikiranku, dan jauhkan kami dengan caraMu, dan ikhlaskan hati kami dalam menjalani semua yang terbaik, aamiin."
"Allah telah menjawab segala pinta ku, terimakasih ya Rabb, hamba betul-betul paham cara Mu mengujij hati ini" Bisik hati Aisyah.
Kemudian, seketika Aisyah mengingat-ingat kejadian tadi siang.
Cakra untuk pertamakalinya menegur dan meminta waktu Aisyah untuk membicarakan sesuatu. Saat itu Aisyah tidak sama sekali merasa takut atau bahkan ge-er Cakra akan berbicara serius tentang perasaannya atau tentang urusan hati Aisyah terhadap Cakra. Lagi pula saat diajak bicara dengan Cakra entah mengapa hati Aisyah sudah tak berdetik lagi. Rasanya benar-benar netral seperti bicara dengan teman laki-lakinya yang lain.
"Assalamualaikum, syah?"
"Walaikumussalam, ada apa yah?"
"Bolehkah kita berbicara sebentar?"
"Untuk apa? Soal apa?"
"Soal... Mmm... Yasudah bicarakan saja nanti, bagaimana bisa tidak?"
"Yasudah, jangan terlalu lama ya saya tak enak dilihat orang"
"Baiklah, bagaimana kita bicarakan ini ditempat ramai?"
"Ya..ya..yaa" Aisyah begitu setuju dengan ajakan tersebut kemudian Aisyah juga memberi saran, "Cakra mohon maaf bagaimana jika saya mengajak Kintan?"
"Sebenarnya sih aku tak enak, ya.. baiklah jika itu permintaan mu, kalau begitu aku menunggu mu dikantin sekolah saja yaa.?"
"Yasudah nanti aku menyusul bersama Kintan. Assalamualaikum" Aisyah berjalan kebelakang kemudian lari meninggalkan Cakra untuk mencari Kintan.
Yaa Kintan adalah sahabat Aisyah, Kintan lah orang yang paling mengerti Aiysah dan begitulah sebaliknya.
Mmm.. biasanya Kintan itu suka banget nongkrong di lab biologi kayaknya aku cari kesana aja deh. Begitulah pikiran Aisyah.
Aisyah menceritakan semuanya kepada Kintan. Namun Kintan sempat menolak, karena tak enak dengan Cakra. Namun dia lebih tak enak lagi jika sahabatnya di fitnah pacaran dengan lelaki yang selama ini digosipkan itu.
Akhirnya saat dikantin Cakra sedang bemesraan dengan Ria, Ria adalah teman sekelas Cakra. Aisyah dan Kintan saling memandang dan tertawa geli ketika melihatnya. Ya.. syukurnya gosip kedekatan Cakra dan Ria telah sampai ketelinga mereka. Kemudian Aisyah langsung mengoneksikan pikirannya dengan ajakan Cakra tadi, pikir ku Cakra akan mengenalkan ku tentang Ria, tapi untuk apa?..
Akhirnya Kintan yang menyapa Cakra, "Hey Cakra, ada apa nih? Mau nraktir kita yaa kasih pajak jadian sama Ria?" Tanyanya sambil mesem-mesem melihat Aisyah.
Ketika Ria melihat Aisyah tatapannya sungguh sinis dan langsung beranjak pamit untuk pulang duluan.
Jelas-jelas Aisyah yang berhati lembut ini merasa sekali jika Ria kesal dengannya, namun mungkin ada maksud yang sangat jelas dari Cakra untuk mengajaknya bicara siang itu.
Yaa akhirnya memang Kintan dilarang untuk memberikan suara dan mendengar pembicaraan namun Kintan persis disebelah Aisyah sambil mengenakan headset
"Maaf yaa Aisyah sebelumnya aku telah mengganggu waktu luang mu, tujuan aku disini sebenernya memang tidak sama sekali untuk memberi mu pajak jadian, maksud ku ingin berbicara dengan mu adalah untuk meminta maaf jika aku telah berlaku salah. Wanita seperti mu tak pantas untuk aku tunggu agar memberikan kejelasan, kabar jadian aku dengan Ria pasti sudahlah sampai ketelinga mu. Dan hal itulah yang membuat ku untuk minta maaf"
"Untuk apa kamu minta maaf? Langkah mu tidaklah salah karena kamu sudah dewasa dan tau yang terbaik untuk mu"
"Iyaa Aisyah, memang sudah lama pula aku menantikan mu dalam sendiri ku. Semakin aku terus menanti mu semakin aku merasakan hal yang acuh dengan sikap mu, aku tak mengerti mungkin sikap mu selama itu adalah untuk menjaga hati dan diri mu. Dan aku sebagai lelaki sungguh menghargai itu. Jika aku dapat memilih, aku akan memilih mu syah"
"Lalu, untuk apa kau beri tahu hal itu pada ku? Untuk apa?"
"Intinya adalah aku hanya ingin mengetahui isi hati mu pada ku saat kamu tahu aku lebih memilih Ria dibandingkan mu"
"Aku sangat bahagia jika kamu memutuskan hal itu tidak ada rasa kesal bahkan cemburu pada mu, untuk apa Aku lakukan itu? Apa untungnya pula bagi ku? Aku memang sempat memiliki rasa-rasa indah saat melihat mu dari jauh tapi itu dulu aku juga tak mengerti perasaan itu telah musnah setelah sebulan yang lalu...."
"Aku ucapkan terimakasih pada mu, karena telah menghargai aku yang hakikatnya adalah sebagai wanita, dan alangkah lebih baiknya jika kamu menghargai semua wanita termasuk Ria..."
"Aku ucapkan terimakasih pada mu, karena telah menghargai aku yang hakikatnya adalah sebagai wanita, dan alangkah lebih baiknya jika kamu menghargai semua wanita termasuk Ria..."
"Aku kira cukup Cakra obrolan kita sampai disini saja, dan menurut saya semua memang sudah jelas adanya.. dan sayapun akhirnya mengerti meski banyak kejanggalan dalam pembicaraan kita."
"Assalamualaikum..."
Aisyah langsung berdiri dan menarik baju Kintan untuk lekas pergi meninggalkan Cakra, karena Aisyah benar-benar takut jika perbincangan tersebut akan menjadi rumit dan semakin menjelimet. Lagi pula Aisyah benar-benar malu saat mengatakan perasaannya yang lalu...
"Huft.. Tadi siang itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, benar-benar excited" Kata Aisyah dalam hati seraya menutup mata untuk menistirahatkan sejenak. Kemdian membaca doa tidur dan berbalik tubuh kekanan
"Huft.. Tadi siang itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, benar-benar excited" Kata Aisyah dalam hati seraya menutup mata untuk menistirahatkan sejenak. Kemdian membaca doa tidur dan berbalik tubuh kekanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar