Ketika selesai belajar untuk persiapan presentasi kimia di laboratorium kimia Aisyahpun segara keluar dan lekas berlari kekelas. Sore itu sudah tak ada murid-murid mungkin tinggal Aisyah dan lima orang lainnya yang belajar bersamanya. Aisyah kekelas karena dia tidak sengaja meninggalkan kunci motornya. Kebetulan lab kimia berada dilantai dasar sedangkan kelas Aisyah 11 IPA 1 berada dilantai dua. Berlarilah iya sendiri keatas dan menuju kelasnya.
Beruntunglah samapi kekelas, kelasnya belum terkunci dan sedag disapu oleh penjaga sekolah. Ia mencari mejanya kemudian dapat!! Yah kuncinya berada dikolong meja Aisyah. Langsung ia bergegas ke arah tangga dan turun ke lantai dasar untuk menuju parkiran. Tapi....... tunggu dulu!! Aisyah saat itu mendengar suara isak tangis perempuan. Bulu kuduknya langsung pada bangkit. Kemudian ia telusururi anak tangga satu persatu semakin ia lewati semakin terdengar suaranya. Mungkin itu adalah suara manusa sungguhan, pikirnya begitu.
Ketika ia berbelok dari tangga kemudian.......... Yahhh dia melihat Cakra dan Ria sedang berpelukan, Ria sedang mengis sedu dipelukan Cakra. Rasanya saat itu Aisyah ingin sekali teriak dan marah. Aisyah marah bukan karena perlakuan dan tindakannya tidak sesuai syariat atau apalah itu mungkin sudah biasa bagi orang berpacaran masa kini. Aisyah benar-benar cemburu. Aisyahpun meneteskan air mata saat ia melihat Cakra dan Ria berpelukan. Kemudian Aisyah berbalik arah dan mencari jalan lain untuk menuju parkiran.
Pada awalnya Aisyah menganalisa mengapa ia harus menangis? Harusnya benar-benar biasa saja jika perasaannya sudah netral? Ia benar-benar merasa bahwa ia cemburu. Jika ia tidak suka dengan perlakuan Cakra yang memeluk Ria lalu mengapa ia harus menangisinya?
"Ya Rabb, mengapa Engkau hadirkan rasa ini kembali? Jika aku menangisnya apakah aku cemburu? Ya Rabb namun aku benar cemburu, aku tak bisa membohongi hati kecil ku ya Rabb. Engkau sungguh lebih mengetahui isi jegolak hati ini."
Setelah kejadian itu Aisyah selalu menghindar saat bertemu Cakra sebenarnya Aisyah tidak ingin melakukan hal itu, Aisyah tak berani menatap Cakra atau sekedar ramah memberi senyum namun Aisyah takut jika matanya dapat berbicara hitung..hitung Aisyah jaga pandangan. Saat bertemu Ria pun Aisyah sedikt geram dalam hatinya meski sering kali Ria melontar senyum kepada Aisyah. Aisyah pun berbalas senyum namun kegelisahan hati mengeuasainya.
Semenjak itu Aisyah selalu berusaha lari dari perasaan tersebut dan mencoba tenang untuk selalu berani mengontrol dirinya. Aisyah harus sadar bahwa Aisyah memang masih mencintai Cakra dalam diamnya. Meski perasaan yang sering ia rasakan adalah kenetralan.
"Namun hati kecil tak pernah bohong. Dan hanya Allah yang mengetahui isi hati ku sesungguhnya",Aisyah berbisik dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar