Selasa, 30 Juli 2013

Kisah Dua Orang Bapak

Suatu hari ada seorang mantan pejabat kaya raya sebut saja bapak A. Bapak A ini mempunyai banyak harta kekayaan yang begitu berlimpah, rumahnya dimana-mana. Perusahaannya pun dimana-mana, makmur sekali hidupnya namun sudah setaun lebih bapak A ini memiliki sakit stroke, dimana strokenya mengenai bagian motorik sebelah kiri. Kaki kirinya tak dapat bergerak. Tangan kirinya dan matanya tak dapat berfungsi. Namun ia masih bisa berbicara. Mantan pejabat yang kaya raya ini sudah melakukan pengobatan dimanaa-mana yang anehnya hartanya tak kunjung habis bahkan perusahaannya selalu mengalami keuntungan yang terus menerus.


Dilain hal ada seorang bapak, sebut saja bapak B. Bapak B ini sangatlah miskin. Aanaknya banyak tidak adapat bersekolah. Makan terkadang hanya siang saja namun itu  sudah syukur kalo lagi apes ya bapak B dan keluarga bisa hanya makan dua hari sekali. Sangatlah tragiss. Bapak B sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari pekerjaan yang layak untuk keluarganya. Namun takdir berkata lain. Bapak B dapat bergantung hanya kepada kardus dan barang-barang plastik lainnya. Ya, bapak B adalah seorang pemulung.

Kemudian hari, yang kebetulan bapak A dan bapak B dipertemukan pada saat sholat berjamaah siang hari. Setelah sholat mereka berdua mengahampiri ustad yang sama. Keduanya ingin berkonsultasi dengan ustad tersebut. Ustad mempersilakan keduanya untuk saling menceritakan persoalan yang sedang dialami. Agar persoalan bisa diselesaikan secara bersama.

Sesi ceritapun diawali dengan keluh bapak A

Bapak A  : Wahai ustad mengapa Allah memberikan aku penyakit ini? Mengapa Allah tidak menyembuhkan aku, aku telah letih dalam sakit ku. Wahai ustad sungguh aku telah berikhtiar dalam proses pengobatan. Sabarpun telah aku lalui, namun mengapa Allah tidak memberikan aku kesembuhan. Sediiiiikit saja aku ingin merasakan nikmatnya berjalan dengan nyaman.

lalu ustad itu hanya tersenyum dan tak menjawab sepeser kepada Bapak A, dan bahkan beralih kepada bapak B untuk mempersilakan untuk menceritakan masalahnya dan berceritalah bapak B

Bapak B  :Wahai ustad apakah aku akan ditakdirkan untuk selalu miskin? Apakah aku selalu ditakdirkan dalam kesedihan yang merana, aku tak sanggup melihat anak dan istri ku hanya makan dua hari sekali bahkan mereka sengaja berpuasa karena kami sulit untuk mendapat makan. Apakah Allah tidak mendengar jerit ku, sungguh aku telah berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak namun Allah tidak menghendaki?

ustad tersebut hanya tersenyum dan belum menjawab, kemudian menatap kedua bapak tersebut, kemudian ustad itu menjawab dengan begitu mudahnya. "Kalian ini sungguh tidak bersyukur"

Bapak A dan Bapak B hanya terdiam dan saling memandang. Sunyipun mencekam ditengah obrolan.

Lalu sang ustad bertanya, "Wahai bapak A dan  B jika kalian bertukar nasib, apakah mau?"
"Siapa yang tidak mengenal bapak A dengan begitu banyak harta, apakah engkau menginginkan hal tersebut?" Ditanyakan hal tersebut kepada bapak B dan jawaban bapak B mengangguk.
Dan dilanjutkan pembicaraan ustad tersebut, "Namun,, dengan satu hal anda merasakan kekayaan namun nikmat sehat anda akan dicabut oleh Allah, begitupun sebaliknya Bapak A, apakah anda menginginkan sehat seperti yang dirasakan bapak B sekarang namun kekayaan anda dicabut oleh Allah, apakah anda ingin?"

kedunyapun menggeleng......



Begitulah manusia ketika tertimpa musibah tak ada lagi rasanya nikmat yang dapat disyukuri, harusnya apapun yang kita alami saat ini, seterpuruk apapun kita pasti masih banyak hal yang dapat kita syukuri sebelum kenikmatan itu hilang, karena kebanyakan manusia akan baru bersyukur saat dia sudah merasakan kehilangan kenikmatannya. Bagaimanapun posisi kita dengan orang lain pun telah diberi porsi masing-masing untuk mensyukuri hidup. Ketika kita ingin bertukar posisi dengan siapapun itu, kekita kita telah mengetahui kejenuhan dalam hidupnya pasti tak ada yang ingin merasakan dan disitulah baru kita kembali bersyukur dengan apa yang tertimpa kepada kita
Ingat, jangan sampai kita bersyukur ketika nikmat yang kita rasakan itu hilaaaaaaaaaang.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar