Rabu, 02 Agustus 2017

Setengah Istri Part 2

Yah selama gua menjadi mahasiswi setengah istri ini gua sering juga putus asa terutama ketika tugas numpuk dan deadline dimana-mana plus dikejar-kejar uas dan mepet waktu keburu dines lagi kelahan itu bikin batin gua "nggak mau jadi bidan aja" itu lahiriyah kaya fitrahnya banget gua nyebut itu dan sering banget keucap kalo udah mumet. Tapi yah toh kelewat-lewat aja sampe akhirnya gua ada diposisi tingkat akhir, azeqq!!! Alhamdulilahyah gua akhirnya memang mampu untuk benar-benar menyelam dikehidupan yang sudah Allah takdirkan ini hehehe. Lebih berdamai aja dengan takdir. Tapi disini gua nggak akan bahas soal proses bagaimana gua sering mengeluh untuk nggak mau jadi bidan tapi lebih bahas pendapat-pendapat gua, yah kalo aja pada gak setuju sama apa yang gua tuangkan dalam tulisan gua ini yah silahkan saja tapi ini hanya sebuah pendapat atau opini yang ada dikepala gua yang pengen gua tuang dalam tulisan ini.

Yang pernah gua bilang sebelumnya pada tulisan gua sebelumnya bahwa menunggu sebuah kelahiran pada umumnya adalah sebuah kebahagian. Secara global menanti kelahiran anak adalah sebuah harapan yang ditunggu. Namun beberapa kejadian yang gua temui selama proses ini gak sedikit juga bahwa menunggu kelahiran adalah sebuah aib keluarga. Yah you know lah apa yang gua maksud disini. Waktu pertama kali gua menemukan kasus ini dimana anak berusia 15 tahun melahirkan anak pertamanya yang tentu aja terjadi karena sebuah kecelakaan. Saat itu usia gua baru menginjak 19 tahun dimana si Ibu ini seumuran sama adik kandung gua sendiri. Dan ini bukan kejadian pertama dan terakhir selama gua kuliah, banyak banget kasus-kasus yang sangat memiris hati gua sebagai perempuan. Pernah juga ketemu anak berusia 14 tahun hamil anak ke-2 sedangkan anak pertamanya masih berusia 5 bulan. Dan kejadian ini gua temui di Ibu kota tercinta, Jakarta. Dimana pusat pemerintahan begitu dekat, jantungnya negara Indonesia. Tapi masih sangat banyak anak-anak yang kehilangan hak bersekolah dan hak untuk menjadi anak. Kenapa hal ini masih terjadi? yah gua fikir kita emang gak bisa buat nyalahin salah satu pihak dalam hal ini. Semua berpengaruh dalam hal ini dari para pejabatnya sampe struktural terkecil kaya masyarakatnya sendiri sebenernya mau nggak sih berubah. Banyak faktor juga hal itu bisa terjadi yah lingkungan paling berpengaruhsih.

Selanjutnya yang akan gua bahas adalah soal menteri kesehatan yang suka bagi-bagi kondom gratis waktu peringatan hari Anti HIV sedunia. Menurut berbagai pihak hal tersebut adalah sama saja menghalalkan berbagai kalangan untuk melakukan zinah dimana-mana yang berarti menkes sangat menyetujui bahwa tidak masalah melakukan hubungan sex asal sudah memakai pelindung agar dapat terhindar dari HIV. Dulu gua sangat setuju dengan hal tersebut sama saja menkes melegalkan berganti-ganti pasangan asal pakai pelindung. Tapi gua sekarang mulai paham itu hanya simbol yang dia berikan bahwa kondom adalah salah satu cara untuk menghindari IMS (Infeksi Menular Seksual) yang paling mudah. Toh menkes juga gak pernah bilang saya melegalkan anda semua untuk berganti-ganti pasangan asal pakai kondom, kan menkes juga nggak pernah bilang itu. Meskipun  terlepas dari riset bahwa pelindung tersebut memiliki angka kegagalan yah namanya juga buatan manusia semua pasti ada angka kegagalannya sih. Dan diluar dari negara-negara yang sudah maju dimana prositusi adalah sebuah hal yang sah-sah saja disana namun mereka hanya punya angka HIV yang rendah dibandingkan negara kita katanya begitu tapi gua kurang setuju dimana dibangdingkan dengan negara yang banyak manusiannya dengan negara yang populasinya agak jarang juga bukan perbandingan yang sepadan menurut gua.

Tapi dari dua persoalan diatas yang bisa gua ambil benang merahnya adalah kembali lagi sih ke norma aturan, lebih menjadi manusia yang beradab gitu. Semuanya kalo beradab ngerti agamalah minimal punya pegangan hidup yah nggak akan jadi manusia yang rusak. Dekat dengan Tuhan juga membuat semua orang lebih tentram yah. Agama apapun deh yah pastikan ngajarinnya yang baik-baik. Jadi menurut gua persoalan-persoalan diatas nggak mesti diributin lagi kalo dari manusianya sendiri emang mau berubah. Kaya hal-hal kecil anak usia 14 tahun dengan hamil anak kedua itu harusnya bisa nggak terjadi di jantungnya Indonesia, karena dekat dengan pusat pemerintahan apa iya pemerintah nggak liat? Bangun pendidikan yang bener-bener berkarakter menambah jam pelajaran agama di sekolah-sekolah umum mungkin itu saran. Yah gua mungkin cuma banyak omong aja yah tanpa melakukan gerakan apapun sampai saat ini, Tapi gua berusaha untuk selalu mendapingi sahabat-sahabat gua diluar sana yaitu seluruh perempuan disepanjangan siklus kehidupannya, berusaha untu tidak men-judge mereka dan selalu mendukung mereka untuk tetap memberikan asuhan dan kasih sayang kepada anaknya agar tidak merasakan hal yang sama kaya mereka agar anaknya nanti bisa mencicipi bangku sekolah dan merasakan masa anak-anak yang semestinya. Meskipun gua masih mengusahakannya sejauh ini. Mungkin usaha gua ini masih sedikit pengaruhnya buat menyembuhkan luka-luka dihati.

Kenapasih gua nggak mau gitu hal itu sering-sering terjadi? Hmm yah emang lo semua mau hal itu terjadi? Nggak jugakan tapi alasan terpenting selama gua berproses adalah dimana anak nantinya akan berpengaruh masa pertumbuhannya dari dia mulai terbentuk menjadi janin masa-masa keemasan seorang anak adalah masa 1000 hari kehidupannya. Kebayang dong Ibu mengandung diusia 15 atau 14 tahun sudah sepeduli apasih dia terhadap dirinya sendiri apalagi ngurusin anak bayi. Diumur segitu gua cuma tau belajar sama main doang. Sumpah dijaman itu muka item nggak karuan jerawatan dimana-mana yah nggak peduli-peduli amat sama diri sendiri apalagi kalo posisinya bakal punya bayi aja nggak kepikiran-_- Mungkin bakal ada yang beranggapan ngurusin banget anak-anak dia, dia yang ngurusin. Yah emang itu hak-hak dia mau punya pola asuh kaya apa yah urusan dia tapi anak itu akan jadi penerus-penerus bangsa. Masa iyasih Indonesia mau gini-gini aja(Gimanayah emang?hehe). Atau ada yang beranggapan toh keibuan juga bakal muncul sendiri gitu sebagai kefitrahan seorang perempuan. Tapi apa yakin? Secara psikologis aja semua ibu yang melahirkan anak pertamanya secara direncanakan terkadang mengalami babyblues apalagi umur yang sangat belia.

Tapi intinya dari opini gua yang nggak terlalu jelas ini, sebenernya jadi lebih buat gua berfikir kalo sering ngomong "mau nikah aja cape kuliah" yang terlihat didepan mata adalah pernikahan bukan suatu hal yang akan menyelesaikan lu hidup bahagia kaya ending-ending dari drama yang sering kita tonton atau farytale yang kita tau selalu happy ending diakhir bukan. Tapi udah sejauh apa lo udah siap, how to prepare my family plan soon azeq!! Ngacodah tau bahasa inggrisnya apa artinya. Yah semua harus disiapkan sejak dinisih. Kaya kehamilan yang benar-benar direncanakan banget kaya mbak andien yang gua perhatiin banget sampe dia susun proses persalinan sampe ngasuh anaknya bgt umur 3 bulan udah disekolahin bakal beda banget sama anak yang kepaksa jadi yah nggak sih? Mungkin ini bakal bahas banyak nantinya di part terakhir tulisan gua ini.

Ini yang buat gua juga jadi kaya mikir banget mau nikah buru-buru, dulu gua mikir yah nikah tinggal nikah aja tinggal jalanin bareng-bareng as simple itu aja. Haha tapi kaya gua belajar banyaksih buat kaya lebih yakin nggak lo bakal jadi ibu dan nyiapin anak buat penerus bangsa yang tadi gua bilang itu. Yah nikahmah nggak usah buru-buru sih sekrang mah tapi kalo jodoh dateng lebih cepat yah kenapa harus dipikir-pikir, yah InsyaAllah Allah bakal datengin sesuai dengan waktu yang tepatlahyah. Hehe

Dipart ke tiga nanti gua lebih akan bahas soal perempuan, bukan karena gua perempuan tapi emang hal ini mungkin perlu gua tuangkan dalam tulisan gua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar