Aku tak dapat mendeskripsikan seperti apa rasa sakit ini, sulit. Hati ini kacau...
Sunyi.. telinga ku sunyi dari bisingan tentang diri mu yang ingin melepas kelajangan mu. Melayang.. pikiran ku melayang jauh dari apa yang dipikirkan orang-orang ini. Kosong... mata ku kosong dihapadan orang-orang yang berbahagia membicarakan hari pernikahan mu, tentang calon mu yang bukan aku..
Aku tahu kau tak pernah menitipkan hati mu pada ku. Akupun tahu kau tak pernah memberikan ku harapan tentang dirimu akan bersama ku. Aku tahu kau tak pernah berucap janji manis sedikitpun. Kau hanya titipkan senyum dan sapaan hangat saat kita bertemu. Dan hanya bertanya kabar saat kita tak lama bertemu melalui medsos, sapaan kabar yang wajar bagi teman lama yang tak bertemu. Pertemuan kitapun tak begitu akrab.
Aku yang terlampau jauh menyimpan hati ini untuk mu, untuk mu yang tak pernah memberi harapan. Aku yang terlalu berharap... Aku yang terlalu dalam menyimpan sapaan dan senyuman hangat mu. Aku yang begitu amat menunggu mu.. aku melapaui batas untuk mempersiapkan diri bersama mu hingga akhirnya kau memang bertemu bidadari surga mu.
Aku yang salah karena mengharapkan ketidak pastian? Aku tak ingin disalahkan... kita tak pernah salah. Kau dan aku tak pernah salah.
Saat cinta tak dapat dikatakan sebelum akad terlaksana maka disini ada hati yang membara menyimpan rasa dalam-dalam.
Ketika cinta tak dapat terucap sebelum SAH bergema maka itulah yang membuat ku menyimpan rasa ini dalam-dalam. Berharapa dalam-dalam begitu dalam. Sampai aku lupa aku akan patah begitu dalam.
Aku yang mulai bermain-main dengan rasa ini, aku yang menaruh harapan ini sendiri. Aku yang terlampau jauh memantaskan diri akan bersama mu kini sedang memendam patahan hati...
Mungkin ini yang Allah katakan pada surat Al-insyirah pada ayat terkahir "Maka Kepada Tuhan Mu-lah hendaknya kamu Berharap" aku terlalu mengharapkan kamu sampai aku lupa ada Allah Yang Mengetahui apa-apa yang hambaNya tidak ketahui. Aku terlalu berharap kamu, hanya kamu yang aku harapkan. Padahal Ada Allah, semua tinggal diserahkan kembali pada sang pemilik hati. Aku lupa ya Rabb, aku terlalu sombong menguatkan segala doa dan usaha memperbaiki diri agar dapat bersanding dengannya. Aku begitu hina... keistiqomahan ku selama ini hanya berharap jodoh yang sebanding. Padahal ALLAH lebih megetahui dari apa yang aku ketahui. Dan bisa saja apa-apa yang baik bagi ku belum tentu baik bagi Allah dan sebaliknya... Ampuni aku yaRabb....
Banyak hikmah dalam heningan seketika ini, dalam mata yang memendung air. Banyak yang aku lupakan. Terutama tentang kesombongan diri ku untuk memantaskan diri bersanding dengannya. Berharap Allah membalas usaha ku dengan mudah. Padahal Allah ingin menguji "untuk siapakah aku berbenah diri?" Untuk mengejar jodoh atau mengejar ridho Allah. ASTAGFIRULLOH... ampuni dosa hamba yaAllah. Begitu kotor niat ini, begitu busuk hati ini.
Biarkan aku berlari dari keramaian ini. Menangisi kebodohan ku. Kebodohan diri ku yang hanya berharap jodoh yang baik tapi lupa mencari ridho Ilahi...
Lantas, aku tetap berbahagia dalam luka ini atas pernikahan mu. Semoga diri mu dapat membina keluarga sakinah-mawaddah-warohmah.
Nangis gw bacanya
BalasHapus